Pemikiran Lewis Alfred Coser : Teori Fungsionalisme tentang Konflik dalam Karya nya yang Berjudul "The Functions of Social Conflict"
Coser mengemukakan bahwa konflik dipandang sebagai suatu hal yang mengacaukan atau disfungsional terhadap keseimbangan sistem secara keseluruhan. Padahal konflik tidak serta merta merusakkan dan disfungsional untuk sistem, melainkan konflik dapat mempunyai konsekuensi-konsekuensi positif yang bersifat menguntungkan. Teori fungsional konflik menurutnya sebagai berikut. Konflik adalah suatu proses pembentukan, penyatuan dan pemeliharaan struktur sosial, dapat dijadikan sebagai dua garis batas dan savety-valve menjaga dua atau lebih suatu kelompok masyarakat dari konflik sosial atau konflik sosial ini justru dapat memperkuat identitas kelompok dan melindungi agar tidak lebur oleh sekelilingnya. Coser mengajukan konsepsi teori konfliknya bahwa suatu fakta konflik diperbaiki dengan cara menekankan pada sisi konflik yang positif yakni bagaimana konflik itu dapat memberi sumbangan terhadap tatanan dan adaptasi dari kelompok, interaksi, dan sistem sosial yang biasa disebut dengan istilah konflik fungsional.
Menurut saya konflik adalah sebagai bentuk dari kesadaran dan penyatuan dari individu maupun kelompok terhadap lingkungan dan sekelilingnya. Justru malah dari konflik tersebut terdapat hubungan-hubungan yang hidup dimasyarakat. Sedangkan sebaliknya jika tidak ada konflik, persoalan-persoalan yang terjadi cenderung dibiarkan saja dan kelak akan menimbulkan kekacauan besar karena terbiasa membiarkan persoalan sekecil apapun itu. Teori ini setelah ditelaah lebih lanjut adalah sebagai usaha untuk menjembatani antara teori fungsional dengan teori konflik. Pada fungsi konflik sosial dalam sistem sosial terletak pada konflik yang dijadikan sebagai jalan pembaharuan, penyatuan dan pemeliharaan struktur sosial. Masyarakat sebagaimana struktur sosial dan institusi sosial dapat menentukkan tindakan yang dapat menguntungkan atau tidak, sedangkan individu justru kebalikannya.
Diperkuliahan secara tidak sadar kita sebagai mahasiswa suda menciptakan sebuah konflik yang positif. Baik ketika sedang berkompetisi dalam ajang perlombaan dalam dan luar kampus. bersaing untuk mendapatkan IPK terbaik bahkan gelar Cumlaude, menjadi lulusan tercepat dan terbaik. Tentu saja saya sendiri sebagai seorang mahasiswa meilhat teori fungsonal konflik ini sebagai suatu hal yang justru malah dapat menguntungkan bagi suatu sistem yang bersangkutan. Selain itu dalam suatu kelompok konflik yang terjadi dapat meningkatkan solidaritas dalam kelompok yang sedang mengalami konflik dan meningkatkan ikatan sosial yang erat antar kelompok maupun pada kelompok yang sedang berkonflik. Contohnya konflik yang berkepanjangan antara warga Dusun Cengal dengan Rawelo. Adanya konflik dua dusun tersebut terjadi ketika ada perlombaan sepak bola antardusun yang diadakan setiap Hari Kemerdekaan. Konflik yang terjadi antar supporter dusun ini justru malah meningkatkan solidaritas antar kelompok dan mempererat ikatan sosial keduanya walaupun antar dusun tersebut berlomba-lomba atau bersaing untuk memperebutkan juara sepakbola. Inilah yang disebut dengan konflik bersifat fungsional (fungsional positif), yang dimana konflik selalu dilekatkan dengan perpecahan (disfungsional) namun konflik menurut perspektif Coser dapat memperkuat identitas, solidaritas dan ikatan sosial suatu kelompok atau masyarakat.
Referensi
Coser, L. A. (1998). The functions of social conflict (Vol. 9). Routledge.
Syawaludin, M. (2014). Memaknai Konflik Dalam Perspektif Sosiologi Melalui Pendekatan Konflik Fungsional. Tamaddun: Jurnal Kebudayaan dan Sastra Islam, 14(1), 1-18.
Dwi Susilo, Rachmad K. 20 Tokoh Sosiologi Modern. Yogyakarta: Ar-Ruzz Media. 2008, hlm 225.
Dodi, L. (2017). Sentiment Ideology: Membaca Pemikiran Lewis A. Coser dalam Teori Fungsional tentang Konflik (Konsekuensi logis dari Sebuah Interaksi di antara Pihak Jamaah LDII dengan Masyarakat sekitar Gading Mangu-Perak-Jombang). Al-'Adl, 10(1), 104-124.
Komentar
Posting Komentar