Langsung ke konten utama

Teori Fungsional Konflik - Lewis Alfred Coser

Pemikiran  Lewis Alfred Coser : Teori Fungsionalisme tentang Konflik dalam Karya nya yang Berjudul "The Functions of Social Conflict"

Susyhana Khasanatun Azizah NIM 001 Mahasiswa Prodi Sosiologi UIN Sunan Kalijaga 2020



Lewis Alfred Coser adalah seorang sosiolog Modern yang lahir di Berlin tanggal 27 November 1913. Beliau merupakan seorang sosiolog yang mengembangkan teori dari George Simmel. Tokoh yang memengaruhi pemikirannya antaralain, Karl Marx, Emile Durkheim, Sigmunt Freud dan Max Webber. Tetapi dalam teori fungsional konflik ini beliau lebih banyak menggunakan pemikiran dari George Simmel. Karyanya yang sangat populer yang diterbitkan pada tahun 1957 merupakan hasil dari disertasi doktoralnya yang berjudul "The Functions of Social Conflict". Munculnya pemikiran Coser tentang fungsional konflik ini dapat dijelaskan dengan melihat kondisi intelektual, sosial dan politik pada saat itu. Beliau memulainya dengan suatu kecaman terhadap tekanan pada nilai atau konsensus normatif, keteraturan dan keselarasan.


Coser mengemukakan bahwa konflik dipandang sebagai suatu hal yang mengacaukan atau disfungsional terhadap keseimbangan sistem secara keseluruhan. Padahal konflik tidak serta merta merusakkan dan disfungsional untuk sistem, melainkan konflik dapat mempunyai konsekuensi-konsekuensi positif yang bersifat menguntungkan. Teori fungsional konflik menurutnya sebagai berikut. Konflik adalah suatu proses pembentukan, penyatuan dan pemeliharaan struktur sosial, dapat dijadikan sebagai dua garis batas dan savety-valve menjaga dua atau lebih suatu kelompok masyarakat dari konflik sosial atau konflik sosial ini justru dapat memperkuat identitas kelompok dan melindungi agar tidak lebur oleh sekelilingnya. Coser mengajukan konsepsi teori konfliknya bahwa suatu fakta konflik diperbaiki dengan cara menekankan pada sisi konflik yang positif yakni bagaimana konflik itu dapat memberi sumbangan terhadap tatanan dan adaptasi dari kelompok, interaksi, dan sistem sosial yang biasa disebut dengan istilah konflik fungsional.


Saya mengenal teori fungsional konflik dari E-book The International Library Of Sociology  yang berjudul "The Functions Of Social Conflict"  oleh Lewis A. Coser tahun 1956 yang diubah oleh Karl Manheim serta dari beberapa jurnal yang saya baca. Dari e-book dan beberapa jurnal yang saya baca menjelaskan tentang teori fungsional konflik. Coser berpendapat bahwa perubahan sosial tidak semata terjadi melalui proses penyesuaian nilai-nilai yang membawa perubahan, tetapi terjadi akibat adanya konflik yang menghasilkan kompromi-kompromi yang berbeda dengan kondisi semula. Konflik itu terbagi menjadi dua yaitu, bersifat fungsional (baik) dan disfungsional (perpecahan). Fungsional positif yang dimaksud adalah konflik yang ada dapat memperkuat kelompok yang cenderung dapat meredakan ketegangan dan sebaliknya yang disebut fungsional negatif jika konflik tersebut bergerak melawan struktur yang ada. 


Menurut saya konflik adalah  sebagai bentuk dari kesadaran dan penyatuan dari individu maupun kelompok terhadap lingkungan dan sekelilingnya. Justru malah dari konflik tersebut terdapat hubungan-hubungan yang hidup dimasyarakat. Sedangkan sebaliknya jika tidak ada konflik, persoalan-persoalan yang terjadi cenderung dibiarkan saja dan kelak akan menimbulkan kekacauan besar karena terbiasa membiarkan persoalan sekecil apapun itu. Teori ini setelah ditelaah lebih lanjut adalah sebagai usaha untuk menjembatani antara teori fungsional dengan teori konflik. Pada fungsi konflik sosial dalam sistem sosial terletak pada konflik yang dijadikan sebagai jalan pembaharuan, penyatuan dan pemeliharaan struktur sosial. Masyarakat sebagaimana struktur sosial dan institusi sosial dapat menentukkan tindakan yang dapat menguntungkan atau tidak, sedangkan individu justru kebalikannya. 


Diperkuliahan secara tidak sadar kita sebagai mahasiswa suda menciptakan sebuah konflik yang positif. Baik ketika sedang berkompetisi dalam ajang perlombaan dalam dan luar kampus. bersaing untuk mendapatkan IPK terbaik bahkan gelar Cumlaude, menjadi lulusan tercepat dan terbaik. Tentu saja saya sendiri sebagai seorang mahasiswa meilhat teori fungsonal konflik ini sebagai suatu hal yang justru malah dapat menguntungkan bagi suatu sistem yang bersangkutan. Selain itu dalam suatu kelompok konflik yang terjadi dapat meningkatkan solidaritas dalam kelompok yang sedang mengalami konflik dan meningkatkan ikatan sosial yang erat antar kelompok maupun pada kelompok yang sedang berkonflik. Contohnya konflik yang berkepanjangan antara warga Dusun Cengal dengan Rawelo. Adanya konflik dua dusun tersebut terjadi ketika ada perlombaan sepak bola antardusun yang diadakan setiap Hari Kemerdekaan. Konflik yang terjadi antar supporter dusun ini justru malah meningkatkan solidaritas antar kelompok dan mempererat ikatan sosial keduanya walaupun antar dusun tersebut berlomba-lomba atau bersaing untuk memperebutkan juara sepakbola. Inilah yang disebut dengan konflik bersifat fungsional (fungsional positif), yang dimana konflik selalu dilekatkan dengan perpecahan  (disfungsional) namun konflik menurut perspektif Coser dapat memperkuat identitas, solidaritas dan ikatan sosial suatu kelompok atau masyarakat.



Referensi 

Coser, L. A. (1998). The functions of social conflict (Vol. 9). Routledge.

Syawaludin, M. (2014). Memaknai Konflik Dalam Perspektif Sosiologi Melalui Pendekatan Konflik Fungsional. Tamaddun: Jurnal Kebudayaan dan Sastra Islam14(1), 1-18.

Dwi Susilo, Rachmad K. 20 Tokoh Sosiologi Modern. Yogyakarta: Ar-Ruzz Media. 2008, hlm 225.

Dodi, L. (2017). Sentiment Ideology: Membaca Pemikiran Lewis A. Coser dalam Teori Fungsional tentang Konflik (Konsekuensi logis dari Sebuah Interaksi di antara Pihak Jamaah LDII dengan Masyarakat sekitar Gading Mangu-Perak-Jombang). Al-'Adl10(1), 104-124.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Zygmunt Bauman (1925-2017) - Teori Modernitas Cair

Teori Modernitas Cair : Kacamata Bauman dan Penerapannya dalam Kehidupan Susyhana Khasanatun Azizah NIM 01 Mahasiswa Prodi Sosiologi UIN Sunan Kalijaga 2020       Setelah kematian Sosiolog Zygmunt Bauman, dunia intelektual kehilangan wawasan dan jangkauan yang langka karena kekhasan yang dimiliki oleh Bauman berbeda dari ilmuan sosial pada masanya. Bauman lahir di Kota Poznan, Polandia tanggal 19 November 1925 yang merupakan keturunan Yahudi Polandia. Ia dikenal sebagai seorang Filsuf Polandia, Penulis dan Sosiologi. Tokoh yang mempengaruhi pemikirannya seperti, Karl Marx, George Simmel, Antonio Gramsci, dan Theodor Ardono.       Bauman sering disebut "Nabi Pasca Modernisme". Dalam analisis didunia modern, ia menawarkan wawasan mengenai dunia postmodern. Karyanya sebagai seorang modernis seperti Modernity and Abivalence, Modernity and the Holocaust. Sementara karyanya sebagai seorang postmodernis seperti Posmodern  Ethics dan Life...

Charles Tilly - Teori Gerakan Sosial

   Charles Tilly (1929-2008) : Teori Gerakan Sosial dan Penerapannya Susyhana Khasanatun Azizah NIM 001 Mahasiswa Prodi Sosiologi UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta      Dikenal sebagai Bapak pendiri sosiologi Abad Ke-21 dan juga sebagai seorang sosiolog sekaligus sejarawan terkemuka dunia. Charles Tilly dengan keilmuannya yang tidak tertandingi, sisi kemanusiannya yang tinggi dan semangatnya yang tergoyahkan pantas menjadikannya sebagai seorang Bapak Sosiologi Abad Ke-21. Tilly lahir di Lombard, Illinois tanggal 27 Mei 1929 dan meninggal pada 29 April 2008 di usianya yang ke-78 tahun. Karirnya sangat gemilang terutama ketika ia memainkan peran kunci dalam munculnya Sekolah Sosiologi Relasional di New York. Ia adalah lulusan Hravard pada tahun 1950 dengan gelar yang dimilikinya yaitu Bachelor of Arts magna Cumlaude. Kemudian menyelesaikan gelar Doktor of Philosophy in Sociology di Harvard juga tahun 1958.       Tokoh-tokoh berpengaruh seperti Harr...

Ralf Dahrendorf (1929- 2009)

Teori Konflik Sosial Ralf Dahrendorf   Susyhana Khasanatun Azizah NIM 01 Mahasiswa Prodi Sosiologi UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta 2020      Ralf Dahrendorf adalah seorang sosiolog yang lahir pada 1 Mei 1929, di Hamburg. Beliau merupakan seorang tokoh pengkritik teori fungsional struktural dan merupakan ahli teori konflik. Karya utamanya yaitu Classic Class Conflict in Industrial Society (1959). Karyanya tersebut berisi sebagian besar tetang teori konflik. Ralf mengakui bahwa terbentuknya sebuah masyarakat tentu saja tidak terlepas dari adanya dua unsur yang menjadi persyaratan satu sama lainnya atau timbal balik. Disini pemikiran Ralf tidak menggunakan teori Simmel tetapi membangun teori tentang konflik serta memodifikasi teori milik Karl Marx mengenai Kapitalisme. yang hanya berfokus kepada kelas kapitalis. Penyelesaian dari kapitalis ini hanya dapat ditemukan dengan menjungkirbalikkan struktur kapitalis itu melalui tindakan kolektif sejumlah besar orang (Ritze...